Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2010

(Pesan dari Alumni Jama’ah Shalahuddin tentang identitas JS)

Pak Haryanto, Direktur Kemahasiswaan Universitas Gadjah Mada, yang merupakan alumni Jama’ah Shalahuddin UGM, bercerita mengenai identitas Jama’ah Shalahuddin kepada para pengurus Jama’ah Shalahuddin 1431 H/2010 M, pada saat para pengurus tersebut melakukan silaturahim pada awal bulan Maret 2010. Saya adalah salah satu pengurus yang hadir dalam pertemuan tersebut.

Beliau menceritakan asal mula dibentuknya Jama’ah Shalahuddin yang kemudian membentuk identitas Jama’ah Shalahuddin yang harus dipertahankan hingga kapan pun. Bahwasanya, saat itu- era 1976an- , kondisi perpolitikan di Indonesia sangtalah panas. Panas ini yang dilihat oleh para pendiri JS – Muslich Zainal Asikin, dkk.- adalah adanya politik tendenisus yang berlebihan oleh gerakan-gerakan mahasiswa saat itu, seperti PMII, HMI, dan GMNI. Poltik Tendenisus ini sampai berdampak kepada ranah-ranah akademik. Pak Haryanto menceritakan, dahulu jika ada mahasiswa yang memiliki afiliasi ke HMI sedangkan asisten dosennya adalah aktivis GMNI, maka nilai sang mahasiswa tersebut akan dikurangi, sebaliknya jika sama-sama dari GMNI, maka nilainya dibaguskan. Contoh lain, ketika ada aktivis GMNI yang sholat, maka langsung dicurigai, ”lah, kamu jadi anak HMI ya?”. nah hingga sebegitunya.

Nuansa politik tendensius ini memunculkan keresahan di sebagian pihak khususnya para pendiri JS, mereka berfikir,”nah, kalau begini terus, siapa nantinya yang ngurusi keislaman mahasiswa UGM yang bukan aktivis? kan kasian mereka tidak terpedulikan karena politik tendensius? gimana ya caranya supaya sekat-sekat gerakan mahasiswa ini dihilangkan?”. Atas dasar keresahan itulah, maka dibentuklah Jama’ah Shalahuddin UGM pada tahun 1976, yang pertama kalinya event Ramadhan Di Kampus dengan acara Maulid Pop dan Sholat Tarawih di Gelanggang. Setelah event ini berlangsung, nuansa politik tendensius itu mulai lah teredam. Jama’ah Shalahuddin diisi oleh orang-orang yang multi bentuk mahasiswa, mulai dari HMI, PMII, GMNI, islam abangan, yang belum berjilbab, masih ngrokok, Islam yang belum pernah sholat, dan lain sebagainya. Mereka bersatu dan melakukan kerja dakwah bersama-sama. Ini lah keindahan yang telah dituturkan beberapa alumni ke saya dibeberapa kesempatan silaturahim, seperti Pak Haryanto(Dirmawa UGM), Pak Abdul Ghofar(ex Dosen Ilmu Pemerintahan UGM), Pak Muslich Zainal Asiqin(pemilik Yayasan Piri), dan Pak Edi Meiyanto(wakil Dekan III Fakultas Farmasi UGM).

Atas dasar latar belakang pendirian Jama’ah Shalahuddin tersebut, maka ditetapkanlah oleh para pendiri bahwa ada madzhab sendiri yang dianut oleh JS, yaitu madzhab Jama’ah Shalahuddin. Bagaimana itu? Yaitu, ramai idiologi dan jenis orang, namun tetap rukun. Tidak boleh ada homogenisasi atau pengarahan pada satu bentuk pemahaman kelompok Islam di Jama’ah Shalahuddin. Setiap anggotanya ketika berada di Jama’ah Shalahuddin, harus mau melepas jaket kelompok ekstra kampusnya. Example : dulu Pak Haryanto adalah aktivis HMI, namun ketika berada di JS, ia melupakan HMInya, nanti setelah berada di luar JS, maka ia HMI kembali. Sehingga, di JS ini akan bersih dari politik kekuasaan antar gerkan islam.

Kesepakatan ini kemudian dikonstitusikan ke dalam Tata Gerak Jama’ah Shalahuddin pasal 4, yang hingga saat ini, masih disepakati dan belum ada yang ingin merubah pasalnya. Bunyi pasa tersebut adalah :

Pasal 4

Jama’ah Shalahuddin bersifat independen dan tidak berafiliasi pada organisasi massa dan organisasi sosial politik manapun.

Dari pasal tersebut, maka bisa diintrepresentasikan, baik secara formal maupun kultural, Jama’ah Shalahuddin dilarang untuk terikat dengan salah satu gerakan, ormas, atau kelompok Islam tertentu. Oleh karena itu, setiap anggota JS dilarang mempunyai strategi, baik terang-terangan atupun terselubung, untuk membuat JS memiliki khas pada salah satu partai/ kelompok Islam tertentu. Misal, si A karena anggota HTI, maka ia punya strtegi gimana caranya supaya JS ini mirip dengan HTI, bentuk dan arah perjuangannya sama seperti HTI. Atau, Si B yang anak Tarbiyah, demi menambah perolehan suara PKS di pemilu 2014, Si B ini melakukan upaya untuk menokohkan kader-kader PKS dengan cara mendominankan pengundangan Ustadz2/kader2 PKS untuk ngisi di kajian-kanjiannya JS atau Ramadhan Di Kampus.

(lebih…)

Read Full Post »