Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2008

DRIED FRUIT) BUAH SALAK
(INOVASI PRODUK MAKANAN TRADISIONAL, SEBAGAI SOLUSI DIVERSIFIKASI PANGAN)

I. LATAR BELAKANG MASALAH
Komoditas pertanian Indonesia pada era globalisasi mendatang dihadapkan pada beberapa tantangan yang harus diupayakan agar memiliki daya saing yang tinggi. Apalagi ketika ekonomi nasional saat ini mengalami krisis, maka sektor pertanian merupakan sektor andalan yang dapat menyelamatkan perekonomian nasional. Demikian pula dengan industri pengolahan pangan di tanah air. Industri ini diharapkan dapat menghasilkan produk pangan olahan yang beraneka ragam, jumlah yang memadai dan kualitas yang terbaik serta memiliki beberapa keunggulan komparatif dan mampu bersaing di pasar global (Sutardi, 1996).
Salah satu komoditas potensial hasil pertanian adalah buah-buahan. Buah-buahan tropis Indonesia memiliki varietas yang bermacam-macam, nilai eksotis tersendiri, rasa yang unik, nilai gizi yang tinggi, multiguna serta dapat diterima konsumen luar negeri. Selain itu masih banyak buah-buahan Indonesia yang belum didayagunakan secara optimal. Salah satunya adalah salak yang merupakan tanaman asli Indonesia (Manuwoto, 1997).
Salak merupakan salah satu buah tropis yang khas dan unik. Konon tanaman salak berasal dari Pulau Jawa. Kemudian pada masa penjajahan, biji-biji salak ini dibawa oleh para saudagar dari satu pulau ke pulau lain sehingga menyebar ke seluruh Indonesia, bahkan sampai Filipina, Malaysia, Brunei, dan Muangthai. Salak merupakan jenis tanaman musiman, maka pada musim panen raya sering terjadi produksi buah yang melimpah. Akibatnya terjadi pembuangan salak hasil sortasi dan penjarangan. Sebaliknya jika pada saat harga salak tinggi, banyak petani yang memanen pada umur yang lebih muda dan hal ini akan memberikan dampak negatif pada mutu terutama flavor (Tranggono, 1997).
Di samping buah salak yang pasarannya cukup ramai, usaha penanaman pohon salak juga dapat menghasilkan hasil sampingan yang tidak kalah menariknya. Hasil sampingan ini adalah usaha memproduksi bibit salak secara cangkokan. Menurut Sudibyo (2001), para petani salak saat ini juga dipermainkan tengkulak sehingga harga di tingkat petani sering jatuh. Ironisnya salak dijual di supermaket dengan kualitas sama tetapi dengan harga yang lebih tinggi.
Prospek budidaya salak mungkin sekali akan meluas di Jawa, terutama di sekitar kota-kota besar, yang di situ salak tetap dibutuhkan dan dapat mencapai harga yang tinggi. Segera setelah tahun-tahun pertama nir-produksi teratasi, maka kebun salak mungkin dapat cukup menguntungkan, karena relatif hanya diperlukan sedikit masukan untuk mempertahankan produksinya. Prospek untuk ekspornya terbatas, mengingat mudahnya buah segar menjadi busuk, dan perdagangan pada umumnya akan beroleh keuntungan jika daya simpannya dapat diperpanjang. Tampaknya masih besar ruang lingkup untuk meningkatkan produktivitasnya. (Verheij dkk., 1997).
Dengan demikian peluang untuk mengembangkan wirausaha produk makanan lokal berbasis salak sangat terbuka lebar dan tentunya diperlukan studi tentang pemasaran produk makanan itu sendiri maupun studi ekonominya. Pemilihan produk manisan kering (dried fruit) merupakan suatu upaya diversifikasi produk sehingga memiliki peluang pasar dan mengurangi kerugian akibat pembusukan buah salak yang tidak laku dijual. Selain itu, masyarakat konsumen memiliki banyak pilihan untuk menikmati produk olahan berbasis buah salak. Produk manisan kering salak juga bisa dijadikan sebagai produk oleh-oleh khas Sleman sehingga peluang pemasaran dan ekonominya sangat besar.
.

II. PERUMUSAN MASALAH
Minat warga masyarakat akan produksi makanan tradisional serta tingginya angka kerugian akibat dari pembusukan buah salak yang tidak laku dijual, membuka peluang bagi kami sebagai produsen untuk menciptakan usaha di bidang produksi yaitu membuat produk olahan dari salak dalam bentuk manisan kering (dried fruit). Produk ini relatif hanya diperlukan sedikit masukan untuk mempertahankan produksinya. Prospek untuk ekspornya terbatas, mengingat mudahnya buah segar menjadi busuk, dan perdagangan pada umumnya akan beroleh keuntungan jika daya simpannya dapat diperpanjang, selain itu produk ini menawarkan nilai beda yang belum pernah ditawarkan oleh produsen sebelumnya, sehingga berpotensi menjadi peluang usaha yang menjanjikan.

III. TUJUAN PROGRAM
Tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam program ini:
a. Memperluas segmen pasar dalam hal kuantitas permintaan panganan lokal dengan membuat produk olahan dari salak dalam bentuk manisan kering (dried fruit) yang memiliki karakteristik yang disukai oleh konsumen.
b. Untuk memperkaya atau menambah tersedianya produk makanan tradisional baru bagi masyarakat (memberikan pilihan yang lebih banyak bagi masyarakat) khususnya makanan tradisional khas Sleman.
c. Untuk memberikan peluang terciptanya kegiatan produksi produk baru khususnya di sekitar lahan pertanian buah salak.
d. Untuk mengembangkan potensi lembaga pendidikan (Perguruan Tinggi) sebagai mitra kerja Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam pencapaian pertumbuhan dan kemakmuran ekonomi melalui pengembangan inovasi.

IV. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Tersedianya produk makanan tradisional olahan dari salak dalam bentuk manisan kering (dried fruit) yang mampu menghasilkan keuntungan secara ekonomi, karena mampu mengakomodir upaya diversifikasi produk makanan sehingga memiliki peluang pasar dan mengurangi kerugian akibat pembusukan buah salak yang tidak laku dijual. serta memperkaya karakteristik dan memberikan lebih banyak pilihan inovasi makanan tradisional baru bagi masyarakat.
(lebih…)

Iklan

Read Full Post »