(Catatan Akhir Tahun)
Satu per satu rezim yang telah berkuasa puluhan tahun tumbang seketika ditelan gelombang amuk rakyat yang sudah tidak tertahankan. Bukan hanya itu, aroma keterlibatan negara-negara barat dalam pelengseran para penguasa seperti Amerika Serikat terhadap Libya dan Mesir tercium sangat kental. Yang menarik adalah revolusi timur tengah bermulai dari satu negara kemudian merembet ke beberapa negara tetangga.
Revolusi timur-tengah, kini megacu kepada kebangkitan dunia arab yang menginginkan sistem pemerintahan baru dan tentunya dengan menumbangkan penguasa yang lama. Gelombang ini bermula dari revolusi yang terjadi di Tunisia sejak Desember 2010 yang terpicu dari aksi bakar diri seorang pedagang kaki lima karena disita barang dagangannya. Aksi solidaritas dan simpatik pun bermunculan, serta semakin hari semakin mengeras akibat perasaan senasib yang dialami juta’an warga Tunisia. Kekerasan pun terjadi hingga menyebabkan sekurangnya 100 warga sipil tewas dan ratusan orang lainnya terluka dalam revolusi melati ini. Akhirnya, 15 Januari 2011, Presiden Ben Ali resmi mengundurkan diri dan kabur ke Arab Saudi dengan membawa 1,5 ton emas. Presiden yang telah berkuasa selama 23 tahun ini akhirnya disidangkan secara in-absensia di Tunisia dalam 3 kasus yang berbeda dan mengkoleksi 66,5 tahun penjara.
Revolusi di Tunisia pun akhirnya merembet ke sejumlah negara di timur tengah seperti Al Jazair, Libanon, Yordania, Sudan, Oman, Arab Saudi, Yaman, serta Suria. Bahkan di Mesir terjadi demo anti pemerintah tak lama setelah Ben Ali tumbang. Masa mendesak, Presiden Husni Mubarak mundur karena telah menyebabkan kemiskinan merajalela, pengangguran meningkatkan, dan korupsi yang semakin marak. Akibatnya terjadi bentrok antara pendukung dengan anti-Mubarak pun pecah, sehingga menimbulkan lebih dari 150 orang tewas dan ribuan lainnya terluka. Setelah 3 minggu menghadapi tekanan masa, tanggal 11 Februari 2011, Presiden Husni Mubarak pun akhirnya tumbang dan diajukan ke meja hijau pada awal Agustus. Namun sayang, meskipun Mubarak tumbang, kerusuhan di Mesir hingga kini masih terus berlanjut akibat perebutan kekuasaan. Dan yang menyesatkan adalah akhirnya Amerika Serikat mengakui bahwa Mubarak, mantan sahabat karibnya, adalah seorang diktaktor. Keberadaan Amerika di belakang revolusi timur tengah sudah menjadi rahasia umum.
Bahkan dalam penggulingan Khadafi, Amerika tidak malu-malu lagi berdiri di barisan terdepan bersama Prancis, Italia, dan beberapa negara barat lainnya. Setelah melalui pertarungan yang sengit antar kelompok militer dan pendukung Khadafi, serta kelompok pemberontak, yang terjadi selama berbulan-bulan, 20 Oktober 2011, Kolonel Muamar Khadafi akhirnya menemui ajal di tangan NTC di kampung halamannya. Dalam kondisi terluka parah, Khadafi diseret dianiaya oleh masyarakat yang membecinya dan pada akhirnya ditembak dengan sadis. Kematian Khadafi, tentu disambut gembira oleh negara-negara barat, terutama Amerika Serikat, yang sudah lama menginginkan Khadafi tumbang.
Yang perlu diwaspadai adalah terdapatnya kepentingan dan rekayasa yang telah, sedang, dan akan dibangun oleh negara-negara barat dengan memanfaatkan gelombang revolusi yang terjadi di timur tengah ini. Arah perubahan yang terjadi sedikit banyak telah di bajak oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Perubahan diarahkan ke demokratisasi. Tanpa malu Amerika Serikat pun mengklaim dirinya sebagai pahlawan yang mendorong perubahan di Timur Tengah, padahal secara nyata-nyata , negara bengis ini terlihat mendukung rezim represif yang berlangsung sebelum gerakan revolusi ini pecah. AS dan sekutunya kemudian berubah arah seakan-akan memihak rakyat , setelah melihat para bonekanya tidak lagi bisa dimanfaatkan.
Namun Barat tahu, bahwa perubahan di Timur Tengah, tidak bisa dilepaskan dari faktor Islam yang telah menjadi kultur dan syu’ur kaum muslimin disana. Tidak mengherankan kalau mereka membungkus tawaran ide-ide sekularitik mereka dengan Islam. Muncullah istilah al islam al mu’tadil (Islam moderat) yang merupakan istilah berbahaya bahkan beracun karena dengan istilah ini akan memunculkan islam pragmatis yang secara perlahan-lahan akan berubah menjadi islam liberalis, seperti yang sudah terjadi di Indonesia.
Pertanyaannya adalah berhasilkah Barat dengan strategi ini ? Apakah akan membawa perubahan berarti bagi masyarakat Timur Tengah ? Barat akankembali gagal. Dan, tawaran ide-ide Barat yang berbungkus Islam pun akan gagal. Namun semua itu tergantung kepada para ulama, cendikiawan, serta politisi islam di sana untuk menanggulangi strategi dari barat ini. Apakah akan terbawa arus atau mampu membalikan arus. Wallahu a’lam bi showab.
Yogyakarta, 31 Desember 2011
Written by:
Megantara Vilanda Setyawan
thanks,…