Di awal April 2009, dunia kembali dibuat resah dengan menyebarnya flu babi (Virus Influenza tipe A/H1N1) yang sampai saat ini, diperhitungkan telah memakan korban lebih dari 170 orang meninggal dunia. Walaupun kasus flu babi yang dilaporkan berawal dari Meksiko ini belum memakan korban sebanyak kasus dengan virus serupa pada tahun 1918 di Spanyol (Kasus Spanish Influenza) yang merenggut nyawa sekitar 40-50 juta orang di seantereo dunia, namun efek domino sudah mulai dirasakan. Hal ini utamanya terkait dengan berkurangnya lalu lintas perdaganagan antar negara-negara dunia disebabkan adanya kekhawatiran menyebarnya pandemik flu babi sehingga menyebabkan terganggunya sektor ekonomi.
Flu babi merupakan penyakit pernafasan yang sering diidap oleh babi. Biasanya virus flu babi ini tidak mudah menular pada manusia apalagi sampai menyebabkan kematian. Babi yang mengidap flu ini persentase kematiannya hanya sekitar 1-4% saja (berdasarkan data WHO).
Gejala flu babi pada manusia umumnya serupa dengan gejala infeksi virus influenza yang biasa menyerang manusia yakni demam lebih dari 37,8 derajad celcius, sakit tenggorokan batuk, pilek, sakit kepala dan nyeri.
Presentasi klinis tipikal infeksi flu babi pada manusia yang serupa dengan inluenza biasa dan infeksi saluran pernafasan atas yang lain itu membuat sebagian besar kasusnya tidak terdeteksi dari surveilans influenza sehingga kejadian penyakit ini pada manusia secara global belum diketahui.
Flu babi yang saat ini menyerang masyarakat meksiko berbeda dengan flu biasa yang diderita manusia dan babi. Flu ini terdiri dari genetik babi, burung dan manusia, dimana jenis baru ini bisa menular antar manusia.
Infeksi influenza babi pada manusia beberapa kali pernah dilaporkan terjadi. Manusia biasanya tertular flu babi dari babi dan, meski sangat sedikit, dari orang yang terinfeksi karena berhubungan dengan babi atau lingkungan peternakan babi.(Kompas, 30/04/09)
Kasus penularan flu babi dari manusia ke manusia sendiri terjadi dalam beberapa kasus namun masih terbatas pada kontak dekat dan sekelompok orang saja.
Flu babi ini pun berefek hingga ke sektor perdagangan. Seperti yang dikatakan oleh Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut, Laksamana Adiyaksa, di Medan, Kamis (30/4),”Munculnya flu babi diperkirakan bisa menekan permintaan minyak hewani di pasar dan beralih ke minyak nabati khususnya minyak sawit (CPO) dan itu bisa mendongkrak harga CPO lagi,”
Pemerintah Indonesia pun juga memutuskan menghentikan impor daging babi untuk sementara. Selain itu, juga akan dilakukan pemeriksaan terhadap 9 juta babi yang ada di Indonesia. (Kompas, 27/04/09)
Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang mendampingi Aburizal saat rapat koordinasi lintas sektor kewaspadaan terhadap penyebaran wabah flu babi di Ruang Rapat Menko Kesra, Jakarta, Senin (27/4), menjelaskan, virus flu babi tidak bisa hidup dalam suhu panas sehingga diharapkan tidak masuk ke Indonesia. Virus babi yang saat ini menjangkit adalah gabungan antara virus babi Asia dan virus babi Eropa, flu burung, dan flu influensa dari manusia yang bermutasi.
Di luar permasalahan tersebut bahwa terdapat perkiraan para ahli influenza secara histori yang menyatakan, pandemi influenza terjadi setiap 11 sampai 42 tahun. Sebagai kaum muslimin yang diserahi amanah untuk memberikan rahmat kepada alam semesta dengan membawa Syariat Islam, kita juga perlu melakukan penelaahan terhadap kasus-kasus pandemi yang ada di dunia. Tidak hanya dalam masalah kedokteran dengan mengupayakan adanya obat yang dapat menyembuhkan penyaklit akibat virus tersebut sebagai kewajiban kifayah kaum muslim, tidak hanya dalam masalah ekonomi dan keuangan untuk memberikan anggaran guna pencegahan dan pengobatan, namun juga secara politik membongkar apa sebenarnya yang terjadi terkait pandemi-pandemi yang beredar di dunia.
Dalam sebuah buku berjudul “Deadly Mist”, Upaya Amerika Merusak Kesehatan Manusia” Jerry D. Gray, seorang mualaf warga negara AS keturunan Jerman yang pernah bergabung di dinas Angkatan Udara AS dan kini menetap di Indonesia secara gamblang memaparkan peran AS dalam pembuatan zat-zat biologi dan kimia yang berbahaya bagi manusia, seperti MSG, Aspartam (gula buatan), fluoride, dan zat-zat mematikan lainnya. Penggunan senjata biologi bahkan sudah dilakukan dalam penaklukan benua Amerika untuk “memusnahkan” orang-orang Indian, penduduk asli benua tersebut.
Dalam buku tersebut Gray juga memaparkan kospirasi jahat dibalik penyebaran virus AIDS, Antrax, sampai flu burung dan membeberkan bahwa bibit-bibit penyakit itu telah dengan sengaja dikontaminasikan pada manusia sebagai uji coba bahkan untuk kepentigan industry obat-obatan mereka untuk meraup keuntungan. Yang lebih kejam lagi, AS juga tega menjadikan rakyatnya sendiri sebagai target uji coba bahan kimia dan biologi berbahaya buatan mereka.
Dalam kasus flu babi, ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan. Pertama, kasus ini muncul di meksiko hanya selang satu minggu setelah Presiden Barack Obama mengunjungi Meksiko yang itu berarti pula datangnya ribuan anggota secret service. Kedua, kasus pertama flu babi terjadi di kota Perote Veracruz di negara Meksiko di sebuah peternakan babi yang luas milik perusahaan Amerika. Ketiga, efek pengalihan perhatian dunia dari kasus krisis keuangan global yang berawal dari Amerika sebagai lokomotif keuangan. Keempat, efek pasar vaksin yang dapat diciptakan dari kepanikan penduduk dunia dan pertanyaan tentang siapa yang memiliki kemampuan untuk prduksi vaksin.
Lalu, adakah flu babi yang sedang mewabah ini merupakan bagian dari konspirasi jahat itu? Wallahu a’lam bi showab. Semoga Alloh SWT senantiasa melindungi kita dari segala bentuk kejahatan dan penyakit, serta senantiasa memberikan petunjuk pada kita yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah.
Solusi Islam
Sebagai sebuah sistem yang paripurna, Islam memiliki solusi atas berbagai problematika yang melingkupi dunia. Dalam kasus flu Babi, ada beberapa solusi yang dapat dilakukan oleh Islam :
Pertama, Islam memiliki aturan yang rinci mengenai perbuatan termasuk makanan dan minuman manusia. Untuk perbuatan manusia, belaku kaidah syara’ “Hukum asal perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum Syara’. Sehingga tidak satu pun perbuatan manusia yang tidak ada hukumnya dalam pandangan Islam. Terkait makanan, berlaku kaedah syara’ : Hukum asal atas benda adalah ibadah (boleh) selama tidak ada dalil yang mengharamkannya”. Daging Babi diharamkan oleh Allah dalam firmannya :
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.
–QS. Al Maidah [5] : 3—
Pengharaman makanan sifatnya pasti dan tidak mengandung illat (sebab diturunkannya sebuah hukum) sehingga tidak perlu dicari apa alasan pengharamannya. Sedangkan fakta ditemukannya realitas bahwa babi merupakan hewan yag menjadi tempat mutasi virus, gennya berbahaya bagi tubuh manusia, tempat hidup cacing pita, tidak dapat dijadikan alasan pengharamannya namun hanya menjadi hikmah yang dapat terjangkau oleh akal manusia atas pengharaman babi. Alasan mendasar babi haram adalah karena Alah telah menetapkannya sebagai barang haram.
Kedua, Islam melarang warga negaranya untuk meperdagangkan barang-barang yang diharamkan oleh aturan Islam kepada publik dengan sifat terbuka. Barang yang haram hanya mungkin beredar di wilayah privat warga negara non-muslim yang syariat agamanya memperbolehkan penggunaan barang tersebut. Negara menetapkan pembatsan-pembatasan terhadap penjualan barng haram dan secara ketat mengawasi peredarannya.
Ketiga, Islam melarang negara yang menerapkan Islam secara Kaffah (Daulah Islam) bergantung pada negara kuffur dalm permasalahan pokok warga negaranya. Masalah pokok tersebut dalam Islam terbagi menjadi 6 Bagian, yaitu : Sandang, Papan, Pangan, Pendidikan, Kesehatan, dan Keamanan. Oleh sebab itu, Syariat Islam memberikan aturan bahwa terdapat kewajiban kifayah bagi masyarakat Islam untuk mengusasai bidang-bidang penting bagi masyarakat. Dalam rangka kemandirian kesehatan, maka negara wajib membangun fasilitas-fasilitas kesehatan secara independen yang tidak berada dibawah hegemoni organisasi lain, baik itu nasional maupun internasional seperti contohnya : WHO.
Keempat, mendapatkan fasilitas kesehatan adalah hak masing-msing warga negara sehinga negara wajib mengadakannya secara cuma-cuma. Ini berarti, penanganan terhadap berbagai macam penyakit yang diderita masyarakat sepenuhnya merupakan tangung jawab negara.
Kelima, Daulah Islam secara terorganisir mengirimkan orang-orang terbaiknya untuk mendapatkan informasi dari negara-negara lainnya (operasi intelejen). Upaya negara lain untuk mempergunakan senjata biologis (bioweapon) terhadap negara dapat diartikan tantangan perang terhadap negara dan wajib dijawab dengan jihad.
Beberapa solusi diatas hanya dapat terwujud saat kaum muslimin memahami Islam tidak terbatas ritual saja, namun merupakan pandangan hidup yang melahirkan solusi. Hal ini semua dapat dilakukan bila kaum muslimin menerapkan Islam secara kaffah di dalam segala lini kehidupan. Tanpa itu semua, kaum muslimin hanyalah (meminjam ungkapan Bus Siti Fadilah) bangsa-bangsa yang tidak berdaya. Wallahu a’lam bi showab.[Megantara]